Game Designer, Sang Visioner

Pada posting yang lalu, saya pernah membahas tentang peran-peran yang terlibat dalam proses pembuatan game. Salah satunya adalah peran sebagai game designer.

Game designer adalah orang yang berperan untuk mengolah dari ide awal sampai jadi satu konsep game yang menyenangkan untuk dimainkan. Sekilas terdengar mudah untuk dilakukan ya.. Apa susahnya berimajinasi untuk mencari ide lalu menuliskannya jadi konsep? Toh proses selanjutnya akan dikerjakan oleh game artist dan game programmer..

Well.. Sebenarnya tugas sebagai game designer tidaklah sesederhana itu. Jadi apa saja sih yang dikerjakan oleh game designer dalam proses pembuatan game?

Berawal dari ide, lalu diolah jadi konsep game

Seperti yang pernah saya bahas sebelumnya, proses pembuatan game diawali dari ide tentang suatu hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Siapa pun bisa punya ide untuk bikin game, namun butuh kemampuan tertentu untuk mengolah ide awal tadi sampai jadi satu paket game yang fun.

Proses pengolahan ide sampai jadi game bukanlah tugas yang sederhana. Game designer harus meracik dan menyatukan  elemen-elemen yang fun dari ide awal tadi ke dalam satu paket game yang fun dimainkan.

Dan belum cukup bila game itu hanya menyenangkan bagi dirinya sendiri. Game designer harus membuat game itu jadi menyenangkan untuk dimainkan orang lain. Bisa dibilang kalau game designer harus memiliki visi (yang fun) tentang game yang akan dibuat ketika dimainkan oleh orang lain.

Apa saja sih yang perlu diolah dari ide awal tadi?

Secara garis besar, ada beberapa elemen yang perlu diolah dari ide awal sampai jadi game, seperti:

  • Mekanik. Elemen ini bisa dikatakan sebagai aturan-aturan yang ada di dalam game. Agar lebih jelas, saya ambil contoh elemen-elemen mekanik dari game Pac-Man:
    • Kondisi awal permainan (Start Game); Karakter Pac-Man (memiliki sejumlah nyawa) yang akan dimainkan dalam suatu maze. Ada empat musuh (hantu) yang berada dalam sangkar di tengah maze. Di dalam maze itu juga ada sejumlah objek (dots) yang harus dikumpulkan oleh pemain.
    • Kondisi akhir permainan (Game Over); Ada dua tipe game over, yaitu:
      • Menang: ketika pemain berhasil mengumpulkan semua dots di dalam maze, sebelum nyawa si Pac-Man habis.
      • Kalah: ketika nyawa si Pac-Man habis sebelum pemain berhasi mengumpulkan semua dots di dalam maze.
    • Aturan untuk aksi yang ada di dalam game:
      • Pemain bisa menggerakkan si Pac-Man ke atas, bawah, kiri dan kanan untuk mengumpulkan dots di dalam maze.
      • Pemain harus menghindari sergapan hantu yang berusaha menangkap si Pac-Man.
      • Kalau hantu berhasil menangkap si Pac-Man, maka nyawanya berkurang satu.
      • Ada kondisi spesial dimana si Pac-Man bisa memakan hantu yang mengejarnya. Untuk itu, pemain harus mendapatkan power dots yang tersebar di dalam maze.

    Nah, tadi adalah beberapa contoh elemen mekanik yang umumnya ada di dalam game. Tugas game designerlah untuk merancang aturan/mekanik tadi berdasarkan ide awal yang diperoleh.

  • Dinamik. Ini adalah elemen yang muncul ketika aturan/mekanik tadi dilakukan oleh pemain saat bermain. Game designer perlu memperhatikan aspek fun dari elemen ini, misalnya dalam contoh game Pac-Man tadi:
    • Kalau hantu memiliki kecepatan X, apa yang terjadi? Apakah pemain jadi kesulitan untuk menghindari hantu sambil mengumpulkan dots? Atau pemain jadi terlalu mudah untuk memenangkan permainan?
    • Apa yang terjadi kalau pemain berusaha mengumpulkan semua power dots terlebih dulu? Perlu berapa power dots yang disediakan agar game ini tetap fun untuk dimainkan?
  • Goal/Objektif. Ini adalah target yang harus dicapai oleh pemain dalam game. Misalnya dalam contoh game Pac-Man tadi, target untuk pemain adalah mengumpulkan semua dots yang ada di dalam maze sebelum nyawa si Pac-Man habis.
    Seorang game designer perlu memperhatikan apakah objektif dalam game ini cocok dengan ide awal yang diperoleh. Selain itu perlu dipertimbangkan juga apakah objektif tersebut sudah cukup fun dan menantang untuk dimainkan.
  • Avatar. Elemen ini adalah representasi dari objek yang dimainkan oleh pemain. Dalam contoh game Pac-Man tadi, avatar yang dimainkan adalah si Pac-Man. Untuk menentukan avatar ini, game designer perlu mempertimbangkan pilihan yang cocok dan fun dari ide awal yang diperoleh.
  • Tema. Ini adalah elemen yang membungkus mekanik tadi jadi satu paket game yang fun untuk dimainkan. Misalnya seperti game Mario Bros, yang merupakan game dengan tema petualangan seorang tukang ledeng di dunia fantasi. Atau game Temple Run yang juga game petualangan dengan karakter seorang petualang ala Indiana Jones.
    Menurut kamu, game Pac-Man yang kita bahas tadi memiliki tema apa?

Itulah tadi beberapa elemen yang perlu diolah dari ide awal sampai jadi satu paket game yang fun untuk dimainkan. Proses pengolahannya pun tidak linear begitu saja, sebab sang game designer perlu selalu menguji apakah elemen tersebut sudah fun untuk dimainkan atau belum. Kalau belum, maka sang game designer perlu mencari ide untuk alternatif lain yang fun untuk dimainkan. Iterasi proses ini terus dilakukan oleh game designer selama proses pembuatan game.

Tertarik untuk jadi game designer?

Nah, apakah kamu tertarik untuk jadi game designer?

Bagi kamu yang ingin jadi game designer mungkin bertanya-tanya kemampuan apa yang dibutuhkan ya?

Dua kemampuan yang perlu dimiliki adalah imajinasi dan kreativitas. Dari dua hal itu, seorang game designer bisa mengolah ide yang diperoleh sampai jadi game yang fun, unik dan fresh.

Saya juga pernah mendapatkan saran yang bagus tentang kemampuan yang perlu dimiliki oleh seorang game designer, yaitu kemampuan mendengar.

Eh? Maksudnya?

Menurut Jesse Schell kemampuan ini berguna untuk memahami input yang diberikan dari luar oleh orang lain (misalnya pemain, anggota tim) dan dari dalam diri kamu untuk bekal dalam mengolah konsep game yang fun.

Info tambahan tentang hal-hal yang diperlukan untuk jadi seorang game designer bisa kamu baca di artikel ini, dan di artikel ini.

Sudah siap menjadi seorang visioner?

Game designer adalah peran yang menyenangkan untuk dijalankan dalam proses pembuatan game. Adalah suatu hal yang seru untuk menemukan ide menarik kemudian diolah satu konsep game yang fun untuk dimainkan.

Dan walaupun kamu tidak bisa menggambar dengan keren atau tidak bisa programming, kamu tetap bisa belajar jadi seorang game designer. Apalagi sekarang sudah banyak software (misalnya Construct2 atau Unity) yang bisa kamu gunakan membuat prototype untuk menguji ide yang kamu dapatkan.

Tips: ada baiknya kalau kamu juga belajar tentang aspek art dan teknis programming, karena itu akan membantu kamu untuk mengkomunikasikan ide kamu ke game artist dan game programmer saat bikin game.

Untuk menutup posting kali ini, saya berikan beberapa link tentang para game designer terkenal yang bisa sumber inspirasi:

Jadi kalau kamu ingin membuat game mulailah wujudkan ide kamu dan jadilah seorang game designer, sang visioner.. Cheers..!

Posted from WordPress for Windows Phone [Lumia]

Iklan

4 thoughts on “Game Designer, Sang Visioner

  1. Tambahan berdasarkan pengalaman kami di Agate Studio, game designer itu penting banget untuk punya kemampuan komunikasi yang bagus, baik lisan atau komunikasi tertulis (terutama dalam pembuatan Game Design Document). Intinya adalah bagaimana Game Designer menyampaikan ide yang dia pikirkan agar benar-benar dimengerti oleh tim, dan bagaimana menerima masukan dari tim. (misalnya bagaimana cara kita menolak dengan halus ide yang ‘tidak bagus’, atau justru bagaimana kita meminta input dari tim).

    • Setuju..! Komunikasi itu salah satu senjata utama game designer untuk berkolaborasi dalam bikin game ya. Nice insight..
      Thank you udah share pengalamannya di Agate ya.. =)

  2. Terima kasih telah berbagi. Kira-kira menurut mas Krishna, ketika dikaitkan dengan desain sebuah game bergenre edukasi, fun seperti apa ya yang bisa saya masukkan dalam sebuah game edukasi? Banyak yang bilang game edukasi itu boring, kira2 desain terbaik memaasukkan fun ke dalam game edukasi seperti apa menurut mas Krishna?
    terima kasih mas atas tanggapannya.

    • Menurut saya, fun atau tidaknya itu tergantung dari target pemain untuk game yang mau kamu buat. Misalnya game edukasi yang mengajarkan matematika dengan tema petualangan Dora. Untuk orang dewasa game itu bisa saja terasa boring, tapi mungkin anak SD akan merasa fun untuk memainkan game itu.

      Saran saya, temukan mekanik yang cocok untuk nilai edukasi yang ingin ditawarkan ke target pemain yang kamu inginkan. Lalu bungkus mekanik itu dengan tema game yang pas untuk target pemain tadi.

      Semoga saran saya bisa membantu ya.. Have fun making game, Cheers..!

Komentar ditutup.